3
2010
Dumai, Kota Sederhana nan Kaya
Kota yang baru saja mendapatkan status sebagai kotamadya ini menjadi salah satu kota kunjunganku pada petualanganku Pekanbaru – Dumai – Malaysia – Batam di akhir Februari 2010. Saat pertama kali datang ke kota ini, tak ada kesan positif yang muncul di pikiranku. Bahkan anggapanku cenderung negatif, aku pikir kota ini sepi, tidak ada daya tarik apapun. Bahkan begitu sampai di kota ini, aku langsung bisa berpikir “Besok aku harus keluar dari kota ini”.
Pak Sap, seorang yang penuh dengan kesederhanaan. Dia hanyalah seorang tukang becek, tetapi dia seorang yang berhati besar. Di tengah kota yang terus berkembang, dia tetap bangga dengan profesinya saat ini. Sesekali dia bercerita mengenai saudara-saudaranya yang tidak bisa menerima keadaannya sebagai tukang becak.
Pak Sap begitu senang dapat berjumpa dengan saya, satu hari bersama cukup untuknya menganggapku sebagai anaknya. Dia bilang “jika kapan-kapan datang ke Dumai dan terjadi apa-apa, bilang kamu punya ayah di sini!!!”. Wah… hatiku begitu senang mendengar kata-katanya yang begitu memiliki makna yang mendalam itu. Hari itu, aku dibawa pula berkunjung ke rumahnya yang sederhana, terbuat dari triplek, hanya dibangun dalam waktu 2 hari, tetapi dia menceritakan rumah itu dengan sangat bangga. Bahkan dia berkata “jika satu kali nanti datang lagi ke Dumai, tidur saja di rumah saya, tidak perlu tidur di Hotel!”.
Hari itu aku diajaknya menunggangi becak kebanggaannya sampai jam 7 malam berkeliling kota Dumai yang merupakan bagian dari Propinsi Riau itu. Setelah lelah dia mengayuh sepedanya, kami mengobrol kesana kemari 30 menit di depan hotel tempat aku menginap. Pagi harinya sebelum aku melanjutkan perjalananku ke Malaysia, aku sekali lagi dibawa berputar-putar kota dengan tujuan yang berbeda lagi dari hari sebelumnya. Perjalanan pagi itu semakin membuatku mengenal Dumai sebagai kota yang kaya.
Kota ini bukanlah kota yang besar. Bahkan sang sopir travel yang mengantarkanku dari Pekanbaru ke Dumai berkata “Dumai hanyalah kota transit ke Malaysia”. Tapi setelah 2 hari 1 malam saya ada di sana dan berkeliling kota, saya menyadari bahwa kota ini kota yang sangat kaya. Bayangkan saja di kota ini terdapat berhektar-hektar kebun kelapa sawit, Perusaan Minyak Caltex, pelabuhan gerbang internasional, dll. Seperti Pak Sap yang sederhana tetapi memiliki hati yang kaya, begitu juga kesanku terhadap kota sederhana nan kaya ini begitu mendalam.
Related Posts
8 Comments + Add Comment
Leave a comment
Komentar Terakhir
- teatoose on Dumai, Kota Sederhana nan Kaya
- irma on Dumai, Kota Sederhana nan Kaya
- teatoose on Dumai, Kota Sederhana nan Kaya
- irma on Dumai, Kota Sederhana nan Kaya
- teatoose on Dumai, Kota Sederhana nan Kaya
Arsip
- September 2010 (1)
- August 2010 (7)

An article by teatus







mantapp…
ceritaa yg menarikkk~
like this.. hohohohhoo
Nice..tp antara paragraf 1 en 2 kesannya putus ya?
Wehehehe… Thanks dah diberi masukan… Maklum gak ada staf QC nih..
wah..aku apply deh..kamu berani bayar berapa, Y??
Wisata ke Dumai ae gimana?
tiket, akomodasi, dan uang saku kamu tanggung? boleh..kapan berangkat???
ya, kapan-kapan kalau aku mau ya…